“Mi, kok uring-uringan mulu?” Tanya Pak Suami.
“Iya, banyak yang dikerjain, banyak yang dipikirin, rumah
berantakan, jadi bikin bad mood.” Jawab saya.
Konon katanya, perempuan butuh mengeluarkan lebih dari 20.000
kata per hari supaya tetap sehat secara jiwa dan raga, Perempuan perlu ngomong,
curhat, bicara ngalor ngidul. Bahkan ketika punya masalah pun, ngga mesti
dikasih solusi tuh katanya, yang penting didengerin unek-uneknya sambil makan
bakso atau makan seblak.
Saya termasuk orang yang ekstrovert, dimana energi saya
datang ketika berinteraksi dengan orang lain. Dulu waktu saya awal jadi ibu
baru, rasanya beteee banget di rumah terus, sedih ngga bisa ketemu temen buat jalan
dan ngobrol bareng. Rasanya dunia ini udah berubah, ngga se-fun dulu lagi waktu
zaman kuliah.
Apalagi ketika mulai banyak masalah rumah tangga yang hanya
bisa dikomunikasikan ke suami, atau bahkan hanya bisa dipendam sendiri, di sana
lah ‘kesehatan mental’ saya jadi terganggu. Saya mudah marah, mudah sedih, mood
swing, dll. Ditambah ada bayi tantrum yang menguras emosi saya yang bagaikan
sehelai rambut dibelah tujuh ini.
| Mamasaurus |
Saya yang begitu energik saat sekolah dan kuliah berubah
menjadi seorang Mamasaurus yang suka marah-marah, hahaha.
Sampai suami saya ngomong, “Ini gara anak-anak kamu jadi
begini, ya?” wkwkwkw.
“Iya abbiy, ummi tuh dasarnya ceria dan baik hati, cuma karena
banyak kerjaan rumah dan ngurusin anak-anak, berubah lah menjadi Mak Grandong yang
siap menerkam orang.” Jawab saya sambil cengengesan.
INGAT YA BAPACK-BAPACK, SESUNGGUHNYA ISTRI-MU ITU PASTI
DASARNYA BAIK HATI DAN MENGGEMASKAN, MAKANYA BAPACK MAU NIKAH SAMA DIA, KAN? HAHAHA.
Hanya saja segala perjuangan hidup untuk mengelola segala
emosi dan kekuatan fisik ketika mengurus rumah terutama anak-anak lah yang
membuat kami ‘berubah’. Karena mengurus anak itu adalah PEKERJAAN MENTAL, Pak.
Dimana ketika kami tidak bisa memenejnya dengan baik, ya
mental kami pun ikut terganggu.
Hal yang Ajaib dari Ngeblog
Aneh tapi nyata, setiap saya selesai menulis postingan blog,
saya merasa lega. Entah seperti habis mengeluarkan unek-unek, puas melihat
tulisan yang rampung, atau entah kenapa, rasanya seperti melepas sebagian beban
yang ada di kepala.
Ide yang berkeliaran biasanya saya tangkap dan saya catat di
gadget, saya buat outlinenya. Kalau sudah senggang, akan saya kembangkan dalam
tulisan blog. Cuma sayangnya sekarang lagi mager-magernya nulis blog karena
lelah melakukan berbagai aktivitas, dari mulai bebenah rumah, bikin bekal anak,
antar jemput ke sekolah, dll.
Karena kelelahan ‘burn out’ itu lah saya kok malas sekali
membuka laptop kesayangan untuk sekedar curhat di blog. Padahal aku kalau abis
curhat suka senang dan bahagia, hanya malah aja nih memulainya. Untung sekarang
ikut challenge dari KEB, kemageranku berkurang dan mulai bisa me-release berbagai
keluh kesah di blog ini.
Ibu adalah Jantung Hatinya Rumah
Kalau bisa diibaratkan, seorang ibu adalah jantung hatinya
rumah. Kenapa? Karena ia merupakan pusat gravitasi semesta di rumah. Kalau ibu
good mood, semuanya kebagian bahagianya, sebaliknya ketika ibu bad mood, hancurlah
semesta jagad raya, senggol bacok mode on, wkwkwk.
Mungkin ini ya hikmah hadits, siapakah yang harus disayangi
dan hormati di dunia ini, “Ibu, ibu, ibu, baru ayahmu.” Karena beban fisik dan
mental seorang ibu mungkin diuji 3x lipat juga. Sejak hamil, melahirkan, sampai
mengasuh anak, masya alloh berapa kali guncangan mental yang bisa ibu rasakan.
Bahkan ketika ibu stress pasca melahirkan, ada ‘penyakit’ tersendiri yang diakui
dalam dunia medis, yakni Post Partum Depretion.
Ya, karena sehebat itu ujian mental seorang ibu ketika
menjalani perannya. Maka dari itu, Kesehatan mental seorang ibu sangat perlu
dijaga dan menjadi perhatian khusus terutama oleh para suami.
Dari Ngeblog dapat Apresiasi
Selain menulis blog, salah satu hal yang membahagiakan
adalah ketika blog kita diapresiasi oleh orang lain. Ada yang DM tulisan kita
sangat membantu masalah mereka, tulisan kita menang lomba, tulisan kita banyak
dikomentari positif, itu pun menjadi salah satu mood booster yang memberikan
energi lebih sehingga kesehatan mental saya sebagai seorang ibu terjaga.
Bahkan ketika mendapatkan pujian dari suami atau anak, “Wah,
Ummi hebat, bisa dapet handphone, laptop, tiket jalan-jalan gratis, uang, dari blog.” Adalah sebuah energi tersendiri
bahwa saya ini masih bisa berprestasi lho, masih bisa berkarya, masih berharga
di mata anak-anak dan suami.
Karena salah satu kebutuhan seorang individu adalah memang
kebutuhan akan eksistensi diri, maka tidak bisa dinafikkan bahwa yang namanya pujian
dan apresiasi akan menjadi sebuah kekuatan untuk terus menjaga kesehatan mental,
terutama sebagai ibu rumah tangga yang tidak bisa mendapatkan apresiasi dari
tempat kerja atau luar rumah.
Maka dari itu, blog adalah salah satu sumber kekuatan dan energi
saya untuk terus berjalan menelusuri kerasnya kehidupan ini, eeeaaaa. Karena
dari blog lah saya mendapatkan banyak kesempatan yang tidak bisa saya bayangkan
sebelumnya.
Bicara dengan Diri Sendiri
Salah satu manfaat menulis blog untuk menjaga kewarasan atau kesehatan mental adalah blog menjadi sarana untuk kita self talk, atau berbicara
dengan diri sendiri.
Masalah di kepala kit aitu seperti benang kusut, yang kadang
kita sendiri bingung untuk mengurainya satu per satu. Dengan menulis blog,
benang kusut itu pun satu satu terlepas dan membuat pikiran kita jauh lebih
longgar.
“Oh, begini toh masalahnya? Oh, jadi gini solusinya.”
Kadang diri sendiri akan bicara seperti ini, ketika ada masalah
yang kita tulis di blog, kemudian kita melakukan refleksi atau introspeksi diri.
Maka masalah yang tadinya kita anggap rumit, pelan-pelan bisa kita cermati dan
analisis sendiri. Apa yang menjadi akar masalahnya, dan bagaimana cara mengatasinya.
Tuh, kan? Perempuan itu begitu, asal bisa punya kesempatan
untuk bicara, tahu-tahu solusinya dia temukan sendiri dari perkataan dan
pemikirannya sendiri, wkwkwkw.
Manfaat Ngeblog untuk Kesehatan Mental
Bagi saya, sangat terasa manfaatnya ngeblog untuk Kesehatan mental,
yakni untuk menyalurkan 20.000 kata sehari, untuk mendapatkan apresiasi diri,
untuk melakukan self talk dan berkontemplasi sendiri, dan menemukan apa sih,
sesungguhnya yang kita pikirkan? Apa yang kita inginkan? Apa yang harus kita
lakukan?
Ngeblog memang menjadi salah satu cara release energi negatif
bagi saya, kadang saya menulis blog ketika tidak bisa tidur di waktu malam, dan
setelah menulis blog, saya merasa lega dan tenang, seperti ada beban yang hilang.
Bagi saya, menulis blog juga merupakan salah satu cara agar
otak bisa tetap bekerja dengan baik, bisa menuliskan hal-hal yang sistematis,
bisa mengutarakan pendapat, karena saya merasa semakin berumur (((BERUMURRRR)))
kinerja otak semakin menurun, wkwkwkwk. Maka dari itu, kalau ngga diasah dengan
menulis di blog, takutnya saya jadi cepat pikun atau tumpul, hahaha.
Apakah Mama seorang blogger juga? Bagaimana rasanya menulis
blog? Apakah dengan ngeblog, perasaan Mama jadi lebih bahagia dan lebih sehat
secara mental?
Sharing yuk, di kolom komentar :D

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga kita selalu menjadi ibu yang bahagia :)