Siapa Saja, sih, Support System Saya Sebagai Blogger?

 



“Mi, jangan kerja ya, di rumah aja, sama anak-anak.”


Itulah kata-kata suami yang ‘menahan’ saya untuk tidak berkarir di luar rumah. Ia lebih Ridha kalau saya di rumah aja, hal yang utama adalah menjaga dan mengasuh anak-anak, bukan untuk berlelah-lelah mengurus rumah begitu saja.

 

Ketika saya sekolah dan kuliah dulu, bayangan saya terhadap masa depan diri saya adalah menjadi seorang Wanita karir yang bekerja mengejar semua passion dan cita-citanya. Sejak kecil saya senang sekali  belajar dan selalu senang ketika mengejar sebuah ‘prestasi’. Maka dari itu, sungguh  tidak terbayang, saat ini seorang Tetty menjadi ibu dengan tiga orang anak laki-laki karena menikah muda di usia yang belum genap 20 tahun waktu itu.

 

Apakah saya menyesali apa yang terjadi kepada hidup saya saat ini? Mengapa hidup saya tak sesuai ‘ekspektasi’ yang saya bayangkan sejak dulu?


Jawabannya tentu tidak, dengan iman yang kuat pada-Nya, saya yakin bahwa apa yang Dia gariskan terhadap jalan hidup saya adalah yang terbaik.

 

Hanya saja yang jadi pertanyaan, apa yang harus saya lakukan kalau saya tidak bekerja? Bagaimana saya bisa berkarya dan belajar?


Suami saya berkata, kalau saya tidak boleh bekerja di luar rumah, namun ia tetap mendukung saya untuk berkarya dari rumah, walau pun saat itu saya dan suami pun ngga tahu saya harus apa dari dalam rumah. Apa yang harus dikerjakan? Karya apa yang harus saya buat?

 

Sebenarnya saya sudah belajar menulis blog sejak kuliah, namun blog (yang kini sudah dihapus oleh Google) itu hanya tempat saya mengerjakan tugas-tugas kuliah. Jadi yang saya tulis beneran random banget, mwahaha, walau pun begitu saya tetap menulis di sana sedikit-sedikit.


Saya juga ngga tahu kalau kekuatan blog ternyata bisa sebombastis itu jika tidak bertemu dengan KEB. Saya menjadi solo blogger yang tidak punya komunitas untuk mencari sumber inspirasi dan motivasi.

 

Dibelikan Hadiah Domain oleh Suami

 

Awalnya saya ngeblog di platform gratisan blogspot (blog tettytanoyo), kemudian suami saya memberikan dana pengembangan diri berupa uang untuk membeli domain blog wkwkwk. Domain blog tentunya akan membuat blog saya lebih professional dan membuat saya lebih semangat untuk menulis, mendesain, dan mengambil foto-foto yang bagus.


Buku-buku yang dibeliin sama Pak Suami


Selain itu, suami juga memberikan dana pengembangan lagi berupa pembelian buku-buku tentang kepenulisan  dan blogging di Gramedia, serta mengizinkan saya ikut kelas kepenulisan secara on line dengan full beasiswa dari pak suami, Mwahaha.

 

Ikut Lomba dan Event Blogger

 

Salah satu hal yang membuat saya berani mencoba hal baru dari dunia blogging adalah mencoba ikut lomba, baik lomba/giveaway yang diselenggarakan oleh seorang blogger, komunitas, atau pun dari brand tertentu.

 

Awal ikut lomba tentunya saya tidak langsung juara, hahaha, tulisannya masih acak-acakan dan tulisannya tuh pendek banget, jadi kurang asik untuk dibaca. Kemudian setelah beberapa kali ikut lomba, akhirnya pecah telor juga, ada yang nyangkut jadi juara, hehehe.

 

Kemudian, the next level dari kisah perjalanan ngeblog saya adalah ketika mendapatkan undangan untuk menghadiri gathering. Di sini hati saya campur aduk, antara bahagia dan kebingungan, karena harus meninggalkan anak di rumah, hal yang belum pernah saya lakukan sejak melahirkan.

 

“Bi, gimana ini? Mau hadir ke event blogger, tapi Kifah gimana, ya?” Tanya saya ke pak suami, waktu itu Kifah masih kecil dan belum pernah ditinggal-tinggal lama oleh Ummi-nya ini.

 

“Yaudah, Kifah di rumah sama Abbiy.”  Jawab pak suami.


Alhamdulillah, akhirnya bisa juga deh berangkat dengan penuh rasa excited, karena perdana ketemu dengan teman blogger di dunia maya. Dan ‘menikmati’ me time di dalam sebuah acara gathering blogger yang selalu seru.

 

My Support System, Suamiku

Selain suami, Bapak dan Mamah (orang tua saya) juga jadi support system untuk saya ketika ngeblog. Ketika ada event gathering blogger yang tidak bisa diback up oleh suami, maka Mamah dan Bapak datang untuk nemenin Kifah di rumah. Kebetulan jarak rumah saya dan rumah orang tua terbilang dekat, hanya beda kecamatan saja.

 

Support System memang Rezeki

 

My lovely family

Dukungan keluarga terutama pasangan adalah salah satu rezeki yang harus disyukuri oleh seorang istri. Dukungan dalam bentuk apapun, baik itu dukungan untuk berkarir, belajar mengejar Pendidikan yang setinggi-tingginya, atau pun mengejar passion dan Impian yang selama ini kita inginkan.


Karena bagi perempuan, dukungan dalam bentuk apapun sangatlah bermakna dalam. Walau pun ‘cuma’ menjaga anak ketika kita perlu untuk melakukan yang hal yang kita sukai. Kadang kala saya juga perlu waktu untuk menulis blog dengan fokus dan serius, apalagi ketika ada lomba blog, biasanya saya titipkan anak-anak kepada abbiynya.

 

Suami juga selalu bilang, “Abbiy lebih suka melihat Ummi nulis atau membuat konten, dibandingkan setiap hari pusing ngurusin cucian.”


Alhamdulillah, sekarang ini, urusan cucian di rumah sudah bisa didelegasikan kepada orang lain supaya tenaga saya tidak terkuras mengerjakan banyak pekerjaan rumah.

 

Support System juga Perlu dikomunikasikan

 

Walau pun memang suami support sepenuhnya terhadap aktivitas saya sebagai blogger, tetap ya saya harus mengkomunikasikan aktivitas saya dengan baik.


Misalnya saja ketika saya akan menulis selama beberapa jam di rumah, menghadiri event, mencari bahan tulisan di luar rumah, dll, maka saya harus benar-benar mempersiapkan semuanya dengan baik. Mengecek jadwal libur suami, memastikan anak-anak sudah disiapkan logistiknya, dan hal-hal yang diperlukan di rumah ketika saya harus beraktivitas di luar rumah.

 

Kalau saya perlu ditemani suami untuk mengambil foto (untuk keperluan job atau perlombaan) biasanya saya titip anak-anak ke Mamah dan Bapak, saya pun harus menghubungi Bapak dan Mamah jauh-jauh hari (ngga boleh dadakan), dan mempersiapkan rumah agar siap ditinggal beberapa jam oleh saya dan suami.

 

Sekarang anak-anak pun jadi Support System

 

Aldebaran sekarang udah paham banget apa 'pekerjaan' Umminya, hehehe

“Ummi itu blogger, kan?” Si sulung bertanya.

“Iya.” Jawab saya.

“Bu guru tadi tanya.” Jawab si sulung.

 

Waktu berlalu, anak-anak pun kini jadi support system saya di dunia blogging. Ketika ada ‘pekerjaan’ yang melibatkan anak-anak, saya berusaha berkomunikasi dengan baik dengan mereka. Menanyakan kesediaan mereka untuk terlibat dalam ‘proyek’ blog Ummi, menjaga mood mereka supaya tetap oke (ini yang penting), dan memberi tahu kompensasi apa yang akan mereka dapatkan karena telah membantu pekerjaan umminya.

 

Semakin lama, anak-anak semakin paham dengan hal ini, dan tidak perlu di-briefing panjang lebar pun mereka sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.


Seperti pasang wajah ceria, happy smile, dll. Wkwkwk.


Dan sebenernya kadang pun mereka yang menanyakan. “Mi, ada acara main ke luar ngga, yang ajak-ajak kita?” Hahaha mereka ketagihan juga ya kalau ada ‘job’ yang  memang bertema anak-anak.

 

Maka dari itu, komunikasi ini penting supaya semua support system bisa berjalan dengan baik.

 

Alhamdulillah, banyak hal yang saya dapatkan dari ngeblog, mulai dari pertemanan yang baik, pengalaman yang tak terhitung, materi, hadiah, perjalanan/travel yang tidak terduga, Masya Allah. Allah memang Maha Baik dan tahu semua yang terbaik untuk hambaNya.

 

Apakah Mama memiliki support system dalam menjalankan hobi Mama sebagai Blogger? Komentar yuk!

 

 


Komentar