Begini Rasanya Terkena Fitnah Orang Lain



 

Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Barang siapa memfitnah saudaranya (dengan tujuan mencela dan menjatuhkan kehormatannya) maka Allah akan menahannya di jembatan Jahannam sampai ia bersih dari dosanya (dengan siksaan itu).” (Riwayat Abu Daud dan dihasankan oleh Albani).

 

“Oh, begini rsanya terkena fitnah.”

 

Gumam saya di dalam hati beberapa tahun lalu seraya beristigfar. Katanya, fitnah lebih kejam dari pada pembunahan, karena saya tidak tahu bagaimana membandingkannya, tapi yang jelas rasanya difitnah orang itu sungguh luar bisa, sakit sekali. 

Apalagi fitnah itu adalah sebuah berita bohong yang disebarkan orang lain untuk menjatuhkan harga diri kita di depan orang lain, astagfirullah rasanya sungguh menusuk kalbu. Kesal, marah, hingga menangis, semua bercampur menjadi satu.

 

Fitnah adalah suatu dosa besar, fitnah merupakan penyakit hati yang harus dijauhi karena dosa yang tak main-main. Fitnah sangat berpengaruh terhadap hidup orang lain, merusak silaturahmi, juga tentunya merusak diri kita di hadapan Allah SWT.

 

Tiba-Tiba Semua Orang Left Group




Saat itu saya sedang menjadi pengurus sebuah organisasi, tiba-tiba semua orang di dalam grup whatsapp tersebut meninggalkan grup secara serempak, satu per satu. Tentunya saya kebingungan, ada apa gerangan, karena merasa tidak ada yang salah dengan kinerja saya pada organisasi tersebut.

 

Beberapa waktu berselang, seseorang (anggota organisasi) menghubungi saya via telepon. Katanya si Mba Z marah, katanya saya menjelek-jelekan dia, sehingga dia memprovokasi semua orang untuk meninggalkan di grup organisasi tersebut sendirian.


Saya yang tidak tahu apa-apa jelas kaget, dan tercengang oleh keadaan. Akhirnya saya mencoba menghubungi si Mba Z secara langsung dan memintanya menceritakan apa yang terjadi.

 

“Maaf Mba, kalau ada apa-apa tolong kasih tau saya secara langsung, ya. Jangan di belakang dan menghasut orang lain. Saya rasa, Mba Z tahu prinsip klarifikasi (tabayun) dalam Islam. Maka dari itu, sebelum Mba memutuskan suatu hal, tolong tabayun lah dengan orang yang bersangkutan. Jangan menyebar fitnah membabi buta seperti itu.”

 

Singkat cerita akhirnya Mba Z minta maaf, namun kondisi hubungan kami tentunya menjadi berbeda dari sebelumnya, karena ada ‘noda fitnah’ yang mewarnainya.


Digunjing oleh Orang Lain

 


Sama seperti kasus sebelumnya, tiba-tiba saya ‘dikeroyok’ oleh orang lain di dalam sebuah tempat online, dicemooh, digunjing dan seperti menjadi bahan olok-olok. Dituduh mengambil sesuatu yang bukan hak. Memang tidak secara eksplisit, tapi suasananya tentu tidak enak, karena seperti di tengah kerumunan orang banyak, tiba-tiba orang-orang di sekeliling kita tertawa, menunjuk, dan mencemooh, dan menuduh ke arah kita.

 

Kadang kita lupa, ketika di dalam sebuah tempat online sekalipun. Pada faktanya setiap orang lain memiliki perasaan dan harga diri yang harus dijaga. Tidak kelihatan memang, hanya sekumpulan chat saja, namun tetap lah, ketika sedang berkomunikasi di dalam grup bayangkan ada orang yang benar-benar sedang berbicara dan mendengarkannya.

 

Maka dari itu, lisan tetap harus dijaga dengan hati-hati, zaman sekarang benar sekali kalimat yang mengatakan ‘Jari-jarimu adalah harimau-mu”

 

Jangan sampai jari-jari kita membuat orang lain sakit hati karenanya. Bahkan menasehati pun ada adabnya, jangan sampai mempermalukan orang yang diberikan nasehat, jangan di depan umum (publik), dan disampaikan dengan cara yang baik.

 

Dan tentunya sebelum itu, klarifikasi dan juga prinsip tabayun harus didahulukan, jangan sampai orang terkena fitnah dan ketidak adilan.

 

Tiba-Tiba Kena ‘Semprot’ Orang Lain

 



Aduh ini juga sama, penyakit hati selalu saja menguasai manusia hingga akhirnya berani untuk menzolimi orang lain. Lagi-lagi, tanpa klarifikasi (tabayun) tanpa adanya fakta yang jelas. Tiba-tiba ada orang lain yang datang untuk meluapkan amarahnya kepada kita.

 

Padahal masalah terbesar ada pada dirinya, yakni suudzon kepada orang lain, tanpa mendahulukan adab untuk mengklarifikasi sebuah kejadian.

 

Beberapa hal yang tidak menyenangkan seperti yang saya ceritakan di atas tentunya menjadi pengalaman tidak enak dalam hidup saya. 


Dulu saya mengira semua orang itu baik dan beradab lho, tapi ternyata ngga juga ya, hehehe. Ada aja orang yang akhlaknya itu mudah sekali menyakiti orang lain. Bertindak tanpa berfikir jauh ke depan.

 

 

Bermula dari Ghibah

 



Setelah beberapa kali mendapatkan pengalaman tidak menyenangkan (terkena fitnah), saya berasumsi bahwa yang Namanya fitnah ini bermula dari Ghibah.


Tahu. Kan? Namanya Ghibah itu ketika ada sebuah cerita yang belum jelas kebenarannya, tiba-tiba digoreng, ditambah penyedap, supaya makin enak untuk diceritakan.

 

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 12

 

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."

Sungguh menggunjing atau Ghibah ini adalah perbuatan yang sangat buruk dan menjijikan, maka dari itu, jika Ghibah tidak dihentikan, maka akan lanjut menjadi fitnah yang merupakan penyakit hati dan berdosa besar jika dilakukan.

 

Jangan Ikut Menjadi Pembenci

 



Guru ngaji saya pernah berkata, realita di masyarakat kita, terutama perempuan yang suka memiliki genk atau kumpulan, jika ada satu orang diantara mereka yang membenci orang lain, maka satu genk tersebut ikut memusuhi.

 

Hal tersebut sangat dilarang oleh syariat Islam, kita tidak boleh membenci seseorang tanpa alasan yang jelas, apalagi hanya sekedar ikut-ikutan, sebagai seorang muslim ketika ada saudara yang sedang berkonflik justru kita lah yang harus mendamaikan, bukan memperkeruh suasana.

 

Banyak sekali hal seperti ini di tengah masyarakat, tiba-tiba ada orang yang ‘membuang muka’ atau tidak mau bertegur sapa ketika bertemu.


Sampai kita merasa, “Lho, salah saya apa? Kok tiba-tiba dijudesin sama dia?”

 


Katanya Memaafkan Itu Mudah, tapi...

 



Katanya memafkan itu mudah, tapi kenyataannya memang berat, wkwkwk.


Salah satu sifat yang saya syukuri adalah memiliki sifat cuek, saya bukan orang yang pendendam. Tapi memang yang namanya memafkan itu perlu proses, apalagi hati kita sudah tergores, perlu waktu untuk menyembuhkannya kembali.

 

Saya selalu mengingat kata-kata para ulama, bahwasanya jika ada yang berbuat tidak baik kepada kita, maka tidak usah sibuk membalas perbuatan mereka. Ada Allah SWT yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, jika kita tidak memperoleh keadilan di dunia, maka akan ada keadilan di akhirat kelak.

 

Tak perlu sibuk membalas, karena Allah SWT yang akan membalasnya jika ia memang benar-benar bersalah. Islam memang tidak mengimani hukum karma, namun Islam memiliki hukum ‘Karna’

 

Allah SWT berfirman:

 

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” QS. Al-Zalzalah: 7-8

 

Sungguh Allah SWT lah yang memiliki hukum seadil-adilnya, pasti Allah SWT akan membalas perbuatan baik maupun perbuatan buruk yang dilakukan oleh manusia.

 

Memaafkan mungkin saja berat, tapi saya percaya jika kita Ikhlas menganggap semua yang terjadi adalah takdir yang menjadi ujian hidup kita dan menguatkan keimanan kita kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan memberikan ganjaran kebaikan dan memberikan pahala kesabaran yang besar.

 

Mudah-mudahan, siapapun yang sedang menerima ujian fitnah kehidupan, mudah-mudahan Allah SWT senantiasa menguatkan dan memberikan kesabaran, serta ada hikmah tersembunyi dibalik semua ujian yang sedang menimpa.

 

Semoga hati kita juga diberikan kemampuan untuk menjadikan Ikhlas sebagai obat hati yang sedang terluka. Amiin yaa robbal ‘alamiin.

 

Apakah Mama juga pernah mengalaminya? Sharing yuk, di kolom komentar :D

 

 


Komentar